Oleh: niasulfiya | Oktober 3, 2009

upload gambar

Tak Ingin ku Rapuh

01 okt 2009,by: nia sulfiya

Detik berganti demi detik, waktu berganti
demi waktu dalam hitungan hari, bulan, hingga tahun. Entah, sudah
berapa jauh langkah menempuh waktu yang berganti. Entah, sudah berapa
banyak mimpi yang berganti dan bertahan menemani waktu yang berlalu.
Setiap pergantian membawa pergantian lain. Setiap pergantian membawa
kehilangan lain. Dan setiap pergantian membawa arti untuk lebih
memahami.

Suka dan duka, tangis dan senyum sudah tergores dalam langkah hati ini.
Dalam langkah ini terkadang hadir seribu mimpi, tapi ternyata itu hanya
berteman sepi. Mencoba memahami. Ada tapi tak sungguh menemani. Hanya
sesaat dalam semu membayangi, bukan sejati. Hingga kehilangan kembali.

Sadar ku pernah rapuh dalam setiap langkah yang tertempuh. Mengingkari
hati tak pernah sungguh hati ini menyentuh. Rasa sakit dan kehilangan
datang memberi dan terkadang membuatku terjatuh. Tapi sadar ku ini
dariMu. Rasa sakit yang memberi justru membuatku semakin kuat memahami.

Sadar ku pernah rapuh dalam langkah yang meretas. Kepala menunduk, mata
memejam, tapi hati ini menerawang jauh ke atas. Menatap langit
mahaluas. Malam hari memayungi bumi terselip cahaya. Betapa luas semua
yang
sudah tercipta. Sekilas mata ini mencoba melihat fokus yang tak
terlihat, tapi sesungguhnya lebih besar dari yang membuat diri ini
tertatih. Perlahan nafas terasa melepas asa,
pernah ku ingin berhenti jika ini tak berhenti memberi seperti ini.
Tapi akhirnya ku tetap melangkah.

Dalam nafas yang terusung. Kaki ini akan tetap berjalan dalam kuasaMu. Langkah yang sebelumnya berjalan, mencoba
untuk tetap utuh terjaga. Ikhlas dan ketulusan menjadi tempat belajar,
tempat bersanding menyandarkan lelah dan peluh, belajar melepaskan
untuk mendekatiMu. Sabar dan syukur menjadi teman setia yang menjaga
hati ini dalam rendahnya, menghargai semua yang tertempuh.

Dalam rapuh, ku sadar selalu ada kehadiranMu dalam setiap hembusan
nafas yang menguatkan hati. Ketika sakit bukan berarti terluka, ketika
terjatuh bukan berarti berhenti, dan ketika kehilangan bukan berarti
harus ikut menghilang. Sadar ku Engkau menemani. Ku akan terus
melangkah dalam kuasaMu.

“Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepadaMu. Namun cinta
dalam jiwa hanyalah padaMu. Maafkanlah bila hati tak sempurna
mencintaiMu, dalam dada kuharap hanya DiriMu yang bertahta.” (Opick –
Rapuh).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: